" Sombong karena merasa Tawadhu' "
Dalam kitab “Al-Hikam”, Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Atha'illah as-Sakandary menjelaskan :
مَنْ أَثْبَتَ لِنَفْسِـهِ تَوَاضُعًا فَهُوَ الْمُتَكَـبِّرُ­ حَقًّا، إِذْ لَيْسَ التَّوَاضُعُ إِلاَّ عَنْ رِفْعَةٍ فَمَتَى أَثْبَتَ لِنَفْسِكَ رِفْعَةً فَأَنْتَ الْمُتَكَـبِّرُ­ حَقًّا
Siapa merasa dirinya tawadhu‘, maka dia benar-benar telah takabbur (sombong). Sebab tiadalah ia merasa tawadhu‘ kalau bukan karena sifat tinggi darinya.
Oleh karena itu, kapan saja kita merasa diri kita tinggi, maka sungguh kita telah takabbur.
Kadang karena ingin tawadhu‘, kita berlaku berlebihan sehingga menjalani hidup terlalu bersahaja padahal kita mampu.
Misalnya : tidak mau ikut serta menyumbangkan pemikiran dan pendapat yang kita miliki kepada orang lain, selalu menolak kepercayaan, tanggung jawab serta amanah yang diberikan kepada kita, padahal kita memiliki kemampuan untuk melaksanakan itu semua. Setan akan menggoda dan membisiki kita bahwa sikap itulah bentuk keunggulan kita yang tidak dimiliki orang lain. Kita adalah orang mulia karena mampu bersikap tawadhu‘ seperti itu.
Mâsyâ Allah. Setan memang tak pernah lelah untuk menggelincirkan­ kita. Walaupun kita sudah rendah hati, justru sifat itu sendiri yang dijadikan senjata oleh setan untuk membuat diri kita sombong. Merasa diri tawadhu‘ termasuk sifat angkuh (kibr). Apalagi jika sifat ini dipamerkan kepada orang lain, maka jadilah perbuatan ini riya’.
Sebenarnya tawadhu‘ itu hanyalah sifat terpuji yang tersimpan dalam hazanah kalbu seorang hamba Allah. Ia tidak menunjukkan sifat-sifatnya itu. Ia hanya meneladani akhlaq Rasulullah shallallahu'Ala­ihi Wasallam. Ia sendiri tidak merasa memiliki sifat tersebut, karena yang ia gunakan dan tiru adalah sifat Rasulullah.
“Hakikat tawadhu‘ adalah tawadhu‘-nya seseorang karena melihat keagungan Allah dan sifat-sifat-Nya­. Tidak ada yang dapat mengeluarkan engkau dari sifat angkuh, kecuali engkau memperhatikan sifat-sifat Allah,”
Kekuasaan Allah adalah sifat yang ada pada-Nya. Allah-lah Yang Maha Kuasa (Al-Qâdir). Selama kita tidak memperhatikan sifat-sifat kemuliaan yang ada pada-Nya, selama itu pula kita merasa lebih dari manusia lainnya, dan dengan sifat itu kita telah takabbur.
Abu Bakar Dalf asy-Syibli berkata, “Siapa yang merasa diri berharga, maka ia tidak bertawadhu‘ (tidak ada bagian dalam tawadhu‘).”
Abu Sulaiman ad-Darany berpesan, “Seorang hamba tidak dapat bertawadhu‘ kepada Allah hingga mengetahui kedudukan dirinya (maksudnya dia tahu kedudukan dirinya di hadapan Allah).”
Bahkan, seorang ulama' ahli hikmah menasihatkan, “Selama seseorang merasa ada yang lebih jahat dari dirinya, maka ia sombong.”
Tawadhu‘ adalah sifat dan watak yang harus dimiliki oleh setiap muslim karena termasuk bagian dari akhlak terpuji (akhlaqul mahmudah).
Supaya senantiasa dalam ketundukan pada-Nya, marilah kita bersama-sama memohon kepada Allah :
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِاسْمِكَ الطُّهْرَ الطَّاهِرِ وَبِعَظَمَتِكَ وَكِبْرِيَائِكَ­ الَّذِى إِذَا طُلِبَتْ بِهَا الْحَسَنَاتِ نِيْلَتْ وَإِذَا دُرِئَتْ بِهَا السَّـيِّئاَتِ حِيْلَتْ. اللَّهُمَّ اصْرِفْ عَناَّ السُّوْءَ وَأَلْقِ عَلَيْنَا مِنْ زِيْنَتِكَ وَنُعُوْتِ رُبُوْبِيَّـتِك­َ مَا تَقْهَرُ بِهَا الْقُلُوْبَ وَتَذِلُّ بِهَا النُّفُوْسَ وَتَقِرُّ بِهَا اْلأَبْصَارَ وَتَلِذُّ بِهَا اْلأَفْكَارَ وَتَخْضَعُ بِهَا كُلَّ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ. يَا اللهُ يَا مُتَكَبِّرُ يَا قَهَّارُ
Ya Allah, sesungguhnya kami mohon kepada-Mu, dengan nama-Mu yang suci, serta keagungan dan kebesaran-Mu yang bila dimohonkan kebijakan dengannya diperoleh kebijakan itu. Bila ditolak keburukan dengan menyebutnya terjauhkan dari keburukan itu. Ya Allah, hindarkanlah kami dari segala keburukan, campakkanlah ke dalam jiwa kami keindahan-Mu serta sifat-sifat-Mu yang terpuji, agar tunduk dengannya semua kalbu, serta luluh semua jiwa, sejuk karenanya semua mata, dan tenang semua pikiran, lagi tunduk semua yang angkuh dan pembangkang. Ya Allah, Yang Memiliki Kebesaran dan Maha Perkasa. Aamiin.
Insya Allah

PENJELASAN DAN CONTOH MAIN IDEA DAN TOPIC SENTENCE english/indo.


Outline dan penjelasan main idea, and topic sentnce.

Liburan kian berlalu, sebentar lagi kita kembali bersekolah seperti biasa. Dan mungkin Analytical Exposition Text adalah salah satu pelajaran pembuka “otak” kita sekarang ini. Meski sedikit menyebalkan memang, mau tidak mau kita harus mempelajari salah satu jenis teks yang satu ini demi kelancaran “sekolah kita” dan tentu peningkatan pemahaman bahasa Inggris yang kita miliki.


Bagaimanapun, Analytical Exposition merupakan bagian penting dalam pelajaran bahasa Inggris. Jika sobat ingin memahaminya, mari kita bersama-sama menelaah pelajaran ini dengan seksama, jangan lupa berdo’a semoga dengan membaca tulisan di bawah ini kita diberi pemahaman lebih, oke..

Definisi dan Tujuan Analytical Exposition


 

Pengertian atau definisi analytical exposition text sebenarnya sangat mudah dipahami. Secara bahasa, “Analytical” bermakna, “examining or liking to examine things very carefully” (Cambridge). Artinya, (suka memeriksa / menguji sesuatu secara hati-hati). Sedangkan makna exposition sendiri sudah pernah saya jelaskan pada tulisan tentang hortatory exposition, yaitu “a comprehensive description” atau penjelasan secara luas.


Dengan demikian, pengertian Analytical Exposition bisa dipahami sebagai text yang mencoba memberikan penjelasan secara komprehensif tentang suatu masalah dengan menampilkan pendapat-pendapat pendukung secara hati-hati.


Sedangkan tujuan utama analytical exposition text ini adalah, “ to attempt to persuade the reader to believe something by presenting one side of the argument.” Artinya mencoba meyakinkan pembaca agar mempercayai sesuatu dengan memberikan satu sisi pendapat saja.”


Mengacu pada tujuan analytical exposition ini, hal ini tidak bermakna bahwa dalam analytical exposition berisi satu argumen saja, akan tetapi berisi berbagai argumen yang memiliki tujuan sama.

 


Generic Structure of Analytical Exposition


 

Perbedaan susunan antara hortatory exposition dengan analytical exposition hanyalah pada struktur terakhirnya saja. Jika hortatory exposition diakhiri dengan recommendation, analytical expostion diakhiri dengan conclusion. Untuk lebih jelasnya mari kita simak di bawah ini:

Thesis


 

Seperti pada jenis teks lainnya, thesis ini berisi pandangan penulis tentang suatu masalah secara lebih sederhana.  Untuk lebih jelasnya silahkan baca penjelasan mengenai thesis statemen pada teks hortatory.

Series of Argument


 

Series of Argument berisi beberapa penjelasan lanjutan dari keterangan sederhana dalam thesis statement. Ketika menulis argument ini, diusahakan agar lebih teliti lagi karena pada bagian inilah sebuah tulisan bisa mempengaruhi pembaca. Jika perlu, sertakan pendapat menurut para ahli.

Conclusion


 

Conclusion sering juga disebut dengan reiteration. Pada bagian ini, kita hanya dituntut untuk menyimpulkan, atau lebih sederhananya kita mengungkapkan kembali apa yang dijelaskan pada thesis statement.


Danger of Smoke Cigarette

By Abi Rohmad/130511100141/writting D

That cigarette is dangerous. Who smokes cigarette? The dangerous chemical will destroy slowly. After smoker broken the death is waiting. Why cigarette is dangerous? Third reason why smoke cigarette danger for us. First reason cigarette contain of danger nicotine, second there is danger Tar and third, cigarette cause danger cancer.

Cigarrete contain nicotine that more danger for our health, almost 70 percent in Idonesia people have died cause smoking cigarette. Although it is danger for us, but cigarrete is nomber one investor to Indonesia country. Nicotine can make new smokers, and if our’s more smoke to cigarrete we wiil get to headache and nauseous. Acording National Cancer Institute, about 87 percent die cause cancer of heart by nicotine from cigarrete. Acording American Heart Association, nicotine has influence in a direct to heart way blood. The matter nicotine that cause cancer of heart and stroke.

Second containing in cigarrete is Tar. Tar is new technical term, term that use to describe danger subtances in cigarrete. Consentration Tar in cigarrete there are three part; high-Tar that contain 22 mg Tar, medium-Tar contain 15 to 21 mg, and low-Tar contain 7 mg or minus. Filter cigarrete at first to add on 1950 years, when known that danger subtance of cigarrete (Tar) which broken health. Human hope that filter can make Tar trap, but the result not agree. Tar be obtain in cigarrete cause fire, and last smoke be found more great Tar compare smoke at first burn Tar in smoke cigarrete can paralyze cilia in heart, and contribution to disease heart like cronis broncitis and cancer.

Danger cancer cause by smoke cigarrete. Ninety percent of lung cancers are caused by smoking. If we smoke five cigarettes a day, we are six times more likely to die of lung cancer than a non smoker. If we smoke twenty cigarettes a day, the risk is nineteen greater. Ninety five percent of people who suffer of bronchitis are people who are smoking. Smokers are two and half times more likely to die of heart disease than non smokers.

 

The conclusion, smoking is really good for tobacco companies because they do make much money from smoking habit and a country so well-off. Smoking however is not good for every body else.


 

http://3.bp.blogspot.com/-CdEcyXyCdiU/UJ8h7zwuhXI/AAAAAAAAAIE/1T9YupfUJh8/s320/english+pic.jpg

 

    The main idea is the most important thing the paragraph says about the topic. The topic is what a paragraph is all about.

 

    Kalimat utama, ide pokok, gagasan utama, dan pikiran utama adalah empat istilah yang sebetulnya bisa dipangkas menjadi dua saja; Kalimat utama dan ide pokok/gagasan utama/pikiran utama.

 

    Ide pokok, gagasan utama, dan pikiran utama merupakan tiga istilah berbeda yang menunjuk pada persoalan yang sama. “Ide” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai rancangan yang tersusun di dalam pikiran. Sementara, “gagasan” artinya hasil pemikiran. Dan “pikiran” adalah hasil berpikir. Tetapi dalam bahasa inggris ketiga istilah tersebut menunjuk satu istilah “Idea” walaupun tentunya secara etimologi akan berbeda. 

saya simpulkan bahwa “ide” merupakan bahasa serapan untuk arti yang juga di sebut sebagai “gagasan” atau “pikiran”

 

    Gagasan utama, ide pokok, dan pikiran utama dalam bahasa inggris disebut “main idea” . Jadi kita akan membahas pengertian “kalimat utama” dan “ide pokok/gagasan utama/pikiran utam.

 

    

Gagasan Utama

      Gagasan utama atau dalam bahasa inggris “main idea” secara sederhana dapat diartikan sebagai inti dari kalimat utama. Pengertian ini merupakan hasil pendekatan dari aplikasinya, bukan pada proses kreatif kepenulisan. Karena pada dasarnya, gagasan utama akan secara paksa atau alami tertuang secara jelas dalam kalimat utama.

Pada contoh paragraf di atas, gagasan utamanya adalah “bahwa tanda-tanda infeksi bisa ditemukan sendiri dengan mengamati kulit anak dari dekat.”

     Gagasan utama bersifat abstrak. Artinya, gagasan utama tidak melulu tertuang secara konkret dalam sebuah paragraf. Gagasan utama ini akan tertuang dalam bentuk kalimat utama. Sementara kalimat bisa beragam bentuk dan sudut pandangnya.

Dari uraian di atas, kita akan dengan mudah menemukan gagasan utama sebuah paragraf ketika kalimat utama sudah ditemukan. Begitu juga sebaliknya, kalimat utama akan mudah ditemukan, ketika gagasan utama sudah bisa ditangkap.  Namun, karena kalimat utama lebih bersifat aplikatif, maka, akan lebih objektif jika pencarian kalimat utama didahulukan daripada gagasan utama.

     Pemahaman terhadap dua hal di atas hanya mungkin didapat melalui proses latihan yang terus menerus. Dalam proses pembelajaran di sekolah hendaknya siswa diarahkan untuk terus berlatih menemukan dua hal tersebut dalam satu atau tiga wacana penuh. Wacana bisa diambil dari surat kabar terpercaya atau media lainnya.

 

Kalimat Utama/Kalimat Pokok

    Kalimat utama adalah kalimat yang menjadi inti/dasar suatu paragraf. Jika kalimat tersebut sengaja dihilangkan, maka isi paragraf tersebut akan hilang. Hal ini tidak terjadi dengan kalimat-kalimat lain yang memang hanya berfungsi sebagai penjelas. Kalimat utama berupa ringkasan dari sebuah paragraf yang rupakan pandangan mendalam dari ide pokok penulis dalam paragraf tersebut.

Sebagai contoh, perhatikan paragraf berikut.

Banyak orang tua yang makin tidak awas terhadap bahaya MRSA. Sementara mereka yang mengetahuinya khawatir jika telah mengabaikan tanda-tanda awal. Sebenarnya, anda tak perlu terburu-buru ke dokter tiap kali anak batuk atau muncul ruam di kulit. Anda bisa menemukan sendiri tanda-tanda infeksi dengan mengamati kulit anak dari dekat.

    Kalimat utama pada paragraf tersebut adalah “Anda bisa menemukan sendiri tanda-tanda infeksi dengan mengamati kulit anak dari dekat.” Ketika kalimat tersebut dihapus, maka isi dari paragraf tersebut akan buyar atau bahkan hilang. Tetapi itu tidak akan terjadi pada kalimat pertama dan kedua. Kalimat tersebut mengandung permasalahan yang diuraikan kalimat penjelas.

 

    Dalam Bahasa Inggris, kalimat utama/kalimat pokok/pokok kalimat, ini disebut sebagai “topic sentence” atau “focus sentence”.

Jadi secara garis besar, kalimat utama akan memiliki point-point berikut.

1. Mengandung permasalahan yang potensial untuk diuraikan;
2. Mempunyai arti yang jelas tanpa dihubungkan dengan kalimat lain
3. Umumnya berada di awal paragraf (untuk paragraf deduktif), dan di akhir paragraf (paragraf induktif).

 

Mencari main idea dalam paragraf Orientation

Pay attention to this paragraph bellow !

  On Friday I went to Mount Bromo. It is one of the mountains Iwant to see very much. It is near   Probolinggo. That is why I stayed at Nida and Hasan's house at Cemara Lawang, Probolinggo.
 

Ingat :

   -  main idea adalah ide pokok (gagasan utama) dalam suatu paragraf.
  -  main idea dapat diletakkan di depan, tengah atau akhir paragraf.

Contoh :
  Main idea pada paragraf di atas terdapat di awal paragraf yaitu : " On Friday I went to Mount Bromo".

 

 

 Latihan dan Pembahasan

 

     Read the passages below carefully, and then answer the following questions. Refer back to the selections if you need help.

 

The Navajo Indians
A Report By: Rachel

     The Navajo Indians were a very interesting tribe to learn and study about. The things that interested me the most were their simple lifestyle. They had no electricity, running water, or indoor plumbing. Life couldn't get much simpler than this!

     Navajo Indians lived in houses called hogans. These houses were made of mud, wooden poles, and tree bark. Many Navajo today still live in hogans.

The Pueblo Indians taught the Navajo many skills. They taught them to plant crops, such as melon, corn, beans, and squash. This is why the Navajo were referred to as farmers, sheep herders, and laborers. Other skills of the Navajo are sand paintings, jewelry making, and rug weaving.

     Navajo Indians wore shoes called moccasins to protect their feet from the hot, desert ground and cactus. They were made from leather or rawhide.

Navajo Indians held ceremonies called Night Chants. They wore masks and shook rattles while praying for rain and good crops. The ceremonies lasted for nine days!

     The Navajo were warlike. They would sometimes raid other Indians, Mexicans, and white men. They would steal horses, sheep, and cows. In 1863, Kit Carson marched 400 men through Canyon de Chelly, the stronghold of the Navajo. Carson and his men killed so much livestock and destroyed so many crops, that the Navajo begged for peace. Carson gathered the Navajo and moved them to Fort Sumner in New Mexico. They were held prisoners there until 1867.

     So as you can see, the Navajo Indians were a very interesting tribe to learn and study about.

 

Questions

1. What is the main idea of this passage?
A. The Navajo Indians were warlike.
B. The Navajo Indians were a very interesting tribe to learn and study about .
C. The Navajos had ceremonies called Night Chants.
D. The Pueblo taught the Navajo many skills.

2. What is the main idea of the third paragraph?
A. The Pueblo Indians taught the Navajo many skills.
B. The Navajo wore shoes called moccasins.
C. The Navajo were skilled at rug weaving.
D. The Navajo were referred to as sheep herders.

3. What is the main idea of the sixth paragraph?
A. The Navajo were held prisoners for many years.
B. Kit Carson was a brave and daring man.
C. The Navajo were a warlike people.
D. The 400 men all died.

Same Looks, Different Personalities

By : Rachel

     Maya and Melissa are twin sisters. They both have shoulder length brown hair and they are both 5 feet tall. From this description you might think that the sisters are just alike, but they are very different.

Maya spends most of her time playing sports. Her favorite sports are baseball and soccer. She has gone to many championships and won many trophies, and was even said to be the team's most valuable player.

     Melissa hates sports. She plays the piano and has played in many recitals and has won many awards. She loves writing and writes some stories for a children's magazine. She has won many statewide writing contests.

Maya is a poor student, but keeps her grades up enough to barely pass. She isn't interested in school. She doesn't like to read anything, except for sports magazines.

     Melissa is a good student. She studies a lot and is at the top of her class. She was valedictorian when she graduated from elementary school. Melissa loves books and reads them all the time.

Maya is outgoing and loud. She is also very humorous. When someone is feeling down, you could count on Maya to make them laugh. She usually wears jeans, a shirt, and she wears her hair up in her lucky baseball hat.

Melissa is quiet and shy. But she is a good listener. When someone tells her a problem, she tries to understand how they feel. Melissa wears skirts and sweaters and wears her hair up in a ponytail.

      The two sisters may have very different personalities, but they are best friends and very close.

 

Questions

1. What is the main idea of this passage?

A. Melissa is very shy.

B. Maya loves sports.

C. The twins look alike, but they have different personalities.

D. The twins are very different, but they are very close.

 

2. What is the main idea of the fourth paragraph?

A. Maya isn't interested in school and doesn't like reading.

B. Maya loves sports magazines.

C. Maya loves to read.

D. Maya is a poor student.

 

3. What is the main idea of the second paragraph?

A. Maya plays baseball.

B. Melissa plays the piano.

C. Maya loves sports.

D. Maya loves the flute.

 

4. What is the main idea of the fifth paragraph?

A. Melissa has skipped a grade.

B. Melissa is a good student.

C. Maya loves to write.

D. Melissa pays attention.

 

 Answers

 

The Navajo Indians

1. What is the main idea of this passage?

B. The Navajo Indians were a interesting tribe to learn and study about.

2. What is the main idea of the third paragraph?

A. The Navajo had many skills.

3. What is the main idea of the sixth paragraph?

C. The Navajo were a warlike people.

 

Same Looks, Different Personalities

1. What is the main idea of this passage?

C. The twins look alike, but have different personalities.

2. What is the main idea of the fourth paragraph?

A. Maya isn't interested in school, and doesn't like to read.

3. What is the main idea of the second paragraph?

C. Maya loves sports.

4. What is the main idea of the fifth paragraph?

B. Melissa is a good student.

 
Menemukan Jati Diri
Hubungan antara manusia dengan Tuhan itu sangat pribadi dan rahasia.
Seorang sufi besar tidak harus memakai sorban agar terlihat seperti seorang sufi, Dia bisa saja memakai caping atau dekil seperti pengemis. Seorang shaleh tidak harus duduk diam mendengarkan ceramah pemuka agama agar dianggap shaleh dia bisa belajar dari kesunyian atau tangisan seorang bayi. Dia bisa belajar dari manapun.
...
Kita tidak harus membawa senjata atau pentungan agar dianggap sebagai pejuang.
Kita tidak harus unjuk kekuatan dengan mengumpulkan orang banyak, agar dianggap ummat Muhammad yg ta'at.
Tuhan bisa menembus mata hati seseorang, walau semua orang menganggap dia sesat atau gila. Tuhan Maha Tahu.
Seorang Nasionalis tidak harus berbicara tentang sejarah negaranya agar dapat diterima keberadaannya dan karena ketakutannya dianggap tidak Nasionalis. Dengan cukup percaya pada dirinya, yang lain akan mengikuti..
Diri yang kuat membentuk
pribadi yang kuat. Merasa kuat pada diri secara tidak langsung mempengaruhi orang lain.
Orang lain pada umumnya lebih tertarik pada karakter yang kuat.
Jadilah magnet, bukan besi yang selalu mengikuti. Ikuti jalan kita sendiri.
Inti dari hidup menurut sebagian ulama' adalah siapa diri kita, apa tujuan kita hidup dan apa kita sudah benar-benar memahami diri kita.
Tidak ada takaran untuk itu, karena kita terus mencari, bila masih merasa resah mungkin itu berarti kita belum menemukan inti hidup.
Pencarian jati diri bisa sangat melelahkan. Ada seseorang yang sudah menemukannya saat berumur 20 tahun..45 tahun, atau sampai dia meninggal masih belum menemukan apa-apa.
Apabila dia sudah menemukannya itu bisa dalam bentuk apapun, hanya orang tersebut yang tahu.
Pikiran yang dangkal, adalah orang yang selalu melihat kulit luar orang lain tanpa mau merenungi kelemahan diri. Atau jika kita sudah menganggap diri kita cukup baik dan memberi batasan untuk tidak berteman dengan seseorang yang memiliki kelainan gender atau seseorang berpenyakit AIDS maupun kusta.
Hidup bukan untuk menuruti orang agar kita merasa diakui tapi untuk dinikmati. Sesungguhnya kita sendirian di dunia ini.
Jiwa ini bebas.
Kebahagiaan diri tidak
ditentukan oleh banyaknya pujian orang, merasa lebih baik dari yang lain. Menang dan kalah, pencitraan, tebar pesona, atau ketakutan akan cacian orang lain..
Tapi lebih karena kita bisa memahami diri sendiri.
Orang yang bijak adalah orang yang tidak pernah tahu apa dirinya putih atau hitam..
Dia hanya berkata abu-abu,
Sedikit banyak mungkin
campuran dari keduanya.
Itulah perumpamaan manusiawi yang tepat.
Semoga bermanfaat untuk renungan kita semua.
Blitar, 09/02/2013 by PPMH MANTENAN'S FB


Sekuntum Mawar Buat Emily
(1930)
Oleh: William Faulkner


http://3.bp.blogspot.com/-dxtH0XiXZsg/U4vcRRe9kRI/AAAAAAAAAho/AAZ7rgb04bs/s1600/emily+house.png


I


    Pada saat Emily meninggal dunia, seluruh penduduk kota kami hadir di upacara pemakamannya: para pria yang ingin memberikan penghormatan mereka di masa-masa berkabung, para wanita yang sangat ingin sekali mengetahui isi dalam rumahnya yang tak seorangpun pernah melihanya selama sepuluh tahun belakangan selain seorang pelayan tuanya— tukang kebun sekaligus koki di rumah itu.
    Emily memiliki rumah besar berbingkai kaca berbentuk bujur sangkar. Dulu, rumah itu dipoles dengan cat putih berhiaskan kubah melengkung dengan puncak menara yang tinggi. Selain itu di dalam rumahnya terdapat balkon melingkar bergaya tujuh puluhan diatur dengan gaya yang dulunya menjadi idaman semua seorang. Ketika garasi dan mesin-mesin pemisah biji kapas memasuki dan menyapu kota itu bahkan di antara orang-orang terkemuka di sana, rumah Miss Emily tetap berdiri tak tersentuh, berdiri teguh di antara kepungan kereta-kereta pengangkut kapas dan stasiun-stasiun bahan bakar. Tapi kini Miss Emily telah pergi bergabung dengan nama-nama terkemuka tersebut di tempat mereka dibaringkan, di pemakaman orang-orang terkenal serta prajurit-prajurit korban perang kemerdekaan pada pertempuran Jefferson.
    Semasa hidupya, Miss Emily dikenal sebagai seorang pribadi yang kolot, pekerja keras,dan sosok yang peduli; karena semacam kewajiban yang dilakoninya di kota itu semenjak suatu hari pada tahun 1894 ketika Kolonel Kortis—walikota yang mengeluarkan peraturan tidak boleh ada wanita negro muncul di jalanan tanpa seorang pendamping—mengirimnya surat tagihan pajak, sumbangan yang harus dibayarkanya semenjak kematian ayahnya hingga batas waktu yang tak ditentukan. Bukan berarti Emily bersedia begitu saja memberikan sumbangan itu.  Akan tetapi Kolonel Sartoris berhasil mengarang cerita yang meyakinkanya. Dia mengatakan Ayah Miss Emily meminjam uang ke pemerintah kota dan pemerintah kota memilih cara seperti itu untuk membayar hutang tersebut. Hanya pria di masa Kolonel Sartoris yang bisa menemukan cara seperti itu, dan hanya wanitalah yang mempercayai ceritanya.
    Kesepakatan ini tak lagi berlaku pada generasi pemerintahan sepeninggal Kolonel Sartoris. Pada awal tahun, pemerintah kota  mengirimnya tagihan pajak melalui pos, namun tidak ada balasan yang datang dari Emily hingga Februari. Mereka lalu mengirimnya sebuah surat dinas memerintahkan Emily untuk mampir ke kantor Sheriff untuk kebaikannya. Seminggu berselang, surat kembali datang yang kali ini di tulis oleh walikota itu sendiri. Surat walikota berisikan tawaran kepada Emily apa dia membutuhkan kendaraan untuk ke kantor Sheriff karena walikota bisa mengirim kendaraan pribadinya untuk menjemput Emily. Surat balasan Emily ditulis di sebuah kertas tipis usang dengan tinta yang tidak begitu jelas berisikan bahwa Emily tidak ingin keluar rumahnya sama sekali. Pada balasan itu, dia juga melampirkan tagihan pajak tanpa komentar apapun.
    Emily dan pemerintah kota mengadakan pertemuan khusus dengan rombongan dewan pengurus kota tersebut. Ketua dewan mengetuk pintu rumah Emily dimana tak pernah ada seorang pengunjung datang ke sana semenjak dia berhenti memberikan les melukis lukisan cina delapan atau sepuluh tahun sebelumnya. Seorang tua berkulit hitam menyambut rombongan itu di ruang depan yang remang, dari sana terdapat tangga menuju ruangan atas yang lebih remang lagi. Di ruangan itu tercium bau debu dan barang-barang tak lagi dipakai, bau pengap dan lembab.  Pelayan berkulit hitam itu membawa mereka menuju ruang tamu yang dihiasi oleh perabotan berbahan dasar kulit. Ketika Negro itu membuka tirai salah satu jendela, mereka melihat celah-celah robekan pada bungkus kulit perabotan ruangan itu. Debu tebal yang keluar dari sofa berterbangan di bawah terpaan sinar matahari ketika rombongan tersebut duduk.  Di sebuah bingkai bercak-bercak di depan perapian terpampang potret ayah Emily dilukis dengan cat air.
    Mereka bangkit dari sofa ketika Emily memasuki ruangan itu, seorang wanita pendek bertubuh gempal dibalut pakaian hitam memakai rantai kalung emas yang menjulur hingga ke pinggang dan menghilang dalam balutan ikat pinggangnya. Dia duduk bersandar di sebuah tonggak terbuat dari pohon eboni dengan warna keemasan yang mengelupas. Rangka tubuhnya kecil dan kurus: mungkin dia masih terlihat gempal karena lemak obesitas yang tersisa di tubuhnya. Seperti sesosok yang lama tenggelam dalam genangan air dalam, dia tampak menggembung ditambah lagi dengan warna kulitnya yang pucat. Matanya, hilang dibawah timbunan lemak di wajahnya, tampak seperti dua biji batu bara yang dimasukkan ke dalam gumpalan sebuah adonan. Dengan mata itu,  Emily melihat sekiling menatap seluruh anggota rombongan ketika para tamu tersebut mengutarakan maksud kedatangan mereka.
    Dia tak mempersilahkan tamunya duduk kembali. Dia hanya berdiri di ambang pintu dan mendengarkan juru bicara rombongan itu mengutarakan maksud kedatangan mereka. Setelah juru bicara menyampaikan tujuan mereka,  suasana diam senyap mereka hanya mendengar suara dentingan jam tak terlihat di ujung rantai kalung emas yang dikenakan Emily.
    Emily menjawab dengan nada suara yang ketus dan dingin. “Aku tak memiliki pajak di Jeferson. Kolonel sartoris yang mengatakannya padaku. Silahkan lihat di dokumen kota supaya kalian puas.”
    “Kami telah memeriksanya. Kami adalah dewan pengurus kota, Miss Emily. Apakah anda tidak menerima surat pemberitahuan dari Sherrif yang ditandatangani olehnya sendiri?”
    “Aku memang menerima selembar kertas,” ujar Miss Emily. “Mungkin dia menganggap dirinya seorang Shefriff. Aku tak memiliki tagihan pajak di Jefferson.”
    “Tapi tak ada dokumen yang menunjukkanya. Kami harus menagihnya lewat—”
    “Silahkan tanya pada Kolonel Sartoris. Aku tak punya tagihan pajak di Jefferson.”
    “Tapi, Miss Emily—”
    “Aku katakan, tanyakan pada Kolonel Sartoris.” (Kolonel Sartoris telah meninggal dunia hampir sepuluh tahun). “Sudah ku bilang Aku tidak punya tagihan pajak di kota ini. Tobe!” Pelayan Negro itu muncul. “Antar bapak-bapak ini keluar rumah.”

II


    Dia mengusir mereka sama seperti dia telah mengusir pendahulu mereka tiga puluh tahun sebelumnya pada saat yang sama. Itu dua tahun setelah kematian ayahnya dan beberapa saat setelah kekasihnya— pria yang dipercaya akan menikahinya— meninggalkannya. Sejak ayahnya meninggal dunia dia jarang keluar rumah dan semenjak kekasihnya pergi, penduduk kota jarang sekali melihatnya keluar. Beberapa ibu-ibu telah mencoba berkunjung ke rumahnya tapi tak diterima. Satu-satunya tanda kehidupan di sana hanyala seorang pria Negro—seorang pemuda— yang keluar masuk rumah itu dengan menjinjing keranjang belanjaan.
    “Seolah-olah pria mengerti cara mengurus rumah,” ujar para ibu-ibu di lingkungan tersebut;  jadi mereka tidak heran ketika dari rumah Emily mulai tercium bau yang tidak sedap. Gabungan dari bau bangkai yang dikerumuni serta Grierson.
    “Seorang tetangga wanitanya pernah mengadu kepada walikota, Hakim Steven yang baru berusia delapan tahun.
    “Apa yang harus aku lakukan, Madam?” Tanya walikota itu.
    “Kenapa bertanya, peringatkan dia untuk membersihkannya,” jawab wanita itu. “Bukankah ada hukum mengenai itu?”
    “Aku yakin tak perlu seperti itu”, ujar Hakim Steven. “Itu mungkin hanya bangkai ular atau tikus yang dibunuh oleh pelayan negronya di halaman rumah itu. Aku akan berbicara dengan Negro itu.”
    Keesokan harinya dia menerima dua pengaduan lainnya, salah satunya berasal dari seorang pria yang datang rutukan malu-malu. “Kita harus menangani ini, Hakim. “Aku akan menjadi orang terakhir yang akan memperingatkan Miss Emily, tapi kita harus bertindak.” Malam itu dewan pengurus kota bertemu—tiga orang tua berjanggut kelabu dan seorang pemuda, pria yang tadi mengusulkan mengambil tindakan.
    “Caranya mudah saja,” kata pria itu. “Kirimkan surat kepada Miss Emily berisikan suruhan agar dia membersihkan tempat tinggalnya. Berikan dia tenggang waktu untuk melakukanya, dan jika dia tidak melakukannya...”
    “Yang benar saja, Pak, kata Hakim Steven, “anda akan mendatangi ibu-ibu hanya untuk mengatakan rumahnya berbau busuk?”
    Pada malam keesokan harinya, setelah larut malam, empat orang pria masuk ke halaman rumah Miss Emily dan mengendap-endap seperti seorang pencuri, mengendus-endus di bawah tembok bata hingga pintu gudang bawah tanah sementara salah satu dari mereka bergerak perlahan-lahan sambil menaburkan sesuatu dengan tangannya yang menyandang sebuah karung dibahunya. Mereka membuka paksa pintu gudang bawah tanah dan menebarkan jeruk lemon di situ dan di semua bagian luar bangunan tersebut. Ketika mereka kembali ke halaman depan rumah, lampu menyala di jendela yang tadinya gelap dan Miss Emily duduk di dalamnya dengan bagian atas tubuhnya mematung seperti sebuah berhala. Mereka mengendap-endap diam-diam melintasi halama menuju jalanan gelap yang dijejeri oleh pohon akasia. Satu atau dua minggu kemudian, bau busuk itu telah lenyap.
    Itulah ketika orang-orang mulai merasa kasihan padanya. Penduduk kota kami, masih ingat jelas bagaimana Old Lady Wyatt, neneknya, menjadi gila mempercayai bahwa Grierson menganggap diri mereka terlalu tinggi dari mereka sebenarnya. Tak ada seorang pemudapun yang cukup cocok untuk Miss Emily. Kita menganggap keluarga itu sebagai tablo (sosok-sosok yang tidak bergerak di panggung pertunjukan), sosok langsing Miss Emily berbalut pakaian putih pada latar belakang, siluet tubuh ayahnya di bagian depan, tubuh ayahnya menempel pada Emily memegang sebuah cambuk kuda, dua sosok mereka terbingkai pada bagian belakang pintu depan. Ketika dia menginjak usia tiga puluh dan masih sendiri, kami mulai khawatir tapi kami tidak menyalahkannya; bahkan dengan kegilaan dalam keluarganya bukab berarti dia menolak semua kesempatan yang datang jika mereka benar-benar terwujud.
    Ketika ayahnya meninggal dunia, ini mengenai rumah itu yang  satun-satunya diwariskan padanya; dan para penduduk kota yang bergembira. Pada akhirnya, mereka bisa menunjukkan rasa kasihan mereka kepada Miss Emily. Ditinggalkan sebatang kara dengan sedikit harta akan membuatnya menjadi lebih membaur. Kini dia akan mengerti tekanan dan keputusasaan karena kekurangan harta dan uang.
    Sesuai dengan kebiasaan di kota kami pada hari setelah kematian ayahnya seluruh wanita di sini bersiap-siap untuk menyampaikan rasa belasungkawa mereka serta memberi bantuan yang mungkin diperlukan. Miss Emily menemui mereka di depan pintu rumah dengan pakaian sehari-hari tanpa raut sedih nampak di wajahnya. Dia memberitahu mereka bahwa ayahnya tidak meninggal dunia. Dia melakukan itu selama tiga hari-hari berturut-turut, ketika pendeta menemuinya,dan dokter membujuknya membiarkan mereka menguburkan mayat ayahnya. Ketika mereka akan memutuskan akan mengambil jalan paksa untuk mendapatkan jenazah ayahnya, Miss Emily akhirnya menyerah dan mereka segera menguburkan jenazah tersebut.
    Kami tidak mengatakannya gila. Kami yakin dia terpaksa melakukan itu. Kami ingat dengan jelas semua pemuda yang ditolak ayahnya, dan kamu mengerti dengan tidak ada yang tersisa, dia harus bergantung pada apa yang telah kami ambil paksa dari dia, sebagaimana orang lainnya.

III

http://4.bp.blogspot.com/-E7SAHVoWEyw/U4vdn_HmPVI/AAAAAAAAAhw/czqHH5Y2-YU/s1600/roseforemily3.JPG


    Dia jatuh sakit cukup lama. Ketika kami melihatnya lagi, rambutnya dipotong pendek membuatnya terlihat seperti seorang gadis muda, sedikit mirip dengan lukisan-lukisan malaikat di jendela-jendela gereja.
    Pemerintah kota baru saja menandatangani kontrak untuk memasang batu trotoar, dan mereka mulai bekerja pada musim panas setelah kematian ayahnya. Perusahaan pembangunan datang dengan pemasang batu, mesin-mesin dan seorang mandor bernama Homer Baron, seorang Amerika—pria dewasa berbadan tegap berkulit coklat dengan suara berat serta mata yang lebih terang dari kulitnya. Bocah-bocah lelaki bergerombol mengikutinya untuk mendengarnya memarahi para pemasang batu, dan para pemasang batu menyanyi seirama dengan gerakan mereka memasang batu trotoar. Tak lama berselang, dia mengenali semua orang di kota ini. Kapanpunarai  kau mendengar ada tawa disebuah kerumunan orang, itu berarti ada Hormer Barron di tengah mereka. Belakangan, kami melihat dia dan Miss Emily pada siang di hari minggu mengendarai kereta kuning beroda yang ditarik oleh sepasang kuda yang dipelanai seragam.
    Awalnya kami senang Miss Emily memiliki seseorang yang menarik baginya, karena semua wanita di kota itu berkata, “Pastinya seorang Grierson tidak benar-benar tertarik pada seorang dari utara, pekerja kasar pula.” Yang lain terutama yang tua-tua mengatakan bahkan duka dalam sekalipun tak mungkin membuat seorang wanita lupa akan darah birunya. Mereka hanya bisa bilang, “Kasihan Emily. Kerabatnya semestinya ada yang datang menjenguknya.” Dia memiliki saudara di Alabama; tapi beberapa tahu lalu ayahnya bertengkar dengan mereka karena warisan Old Lady Wyatt, wanita yang gila itu. Semenjak itu, kedua keluarga besar itu putus hubungan. Mereka bahkan tidak hadir pada pemakaman ayah Miss Emily.
    Secepat orang-orang tua itu mengatakan , “Kasihan Emily,” bisik-bisik di kota itu bersebar. “apak kamu yakin begitu adanya?” tanya mereka satu sama lain. .”tentu saja, apa lagi yang bisa ......”. Mereka membicarakan itu di belakang mereka; berkomat-kamit karena kecemburuan di bawah terpaan sinar matahari pada siang hari minggu itu ketika suara klo-klop-klop dari kereta kudanya lewat di tengah mereka: “Kasihan Emily.”
    Dia mendongakkan kepalanya cukup tinggi—bahkan di suasana suram seperti itu. seolah dia menuntut lebih dari sekedar pengakuan atas martabatnya sebagai keturunan Grierson yang terakhir. Seolah dia menginginkan sentuhan lembut untuk menguatkan kembali keteguhan hatinya. Seperti ketika dia membeli racun tikus, Arsenik. Itu terjadi setahun yang lalu sebelum penduduk kota mulai berbisik-bisik “kasihan Emily,” dan ketika dua sepupu perempuannya datang berkunjung.
    “Aku mau beli racun,” ujarnya kepada apoteker. Saat itu dia berusaha tiga puluh tahun. Ketika itu dia masih bertubuh langsing, meski lebih kurus dari biasanya, dengan mata hitamnya yang dingin dan kaku pada wajahnya yang berkerut di sekitar pelipis dekat kantung mata seperti wajah penjaga menara mercusuar yang sedang berjaga-jaga. “Aku mau beli racun,” ulangnys.
    “Iya, Miss Emily. Racun apa? Untuk tikus atau? Aku sarankan—”
    “Apa yang paling bagus. Aku tak peduli mereknya.”
    Apoteker itu menyebutkan beberapa merek. “Mereka bisa membunuh apapun bahkan seekor gajah. Tapi yang anda inginkan adalah—“
    “Adalah . . . arsenik? Iya, nyonya. Tapi yang kau inginkan—“
    “Aku mau arsenik.”
    Apoteker itu melihat ke arahnya. Dia menatap balik mengencangkan raut wajahnya seperti bendera yang sedang berkibar. “Tentunya,” kata apoteker itu. “Jika anda mau itu. Tapi menurut hukum anda harus bilang untuk apa anda akan menggunakan racun tersebut.”
    Miss Emily hanya menatap dingin padanya, kepalanya dia miringkan ke belakang untuk melihatnya mata ke mata hingga apoteker itu melihat ke arah lain dan mengambil arsenik lalu membungkusnya. Bocah Negro pelayan toko memberinya bungkusan paket pesanan itu; apoteker itu tidak muncul. Ketika dia membuka bungkusan itu di rumah, ada sebuah tulisan di kotak itu dibawah gambar tengkorak dan tulang: “untuk tikus.”

IV


    Esok harinya kami berkata, “Dia akan bunuh diri”; dan kami juga bilang itu hal yang terbaik baginya. Ketika dia mulai terlihat lagi bersama Harmer Brown, kami bilang, “Dia akan menikah dengannya.” Tak lama berselang, kami bilang, “Dia mungkin akan membujuknya,” karena Homer mengatakan—dia menyukai pria, dan diketahui orang banyak bahwa dia sering minum-minum dengan beberapa pemuda di klub Elk—bahwa dia tidak menikah. Kemudian kami bilang, “Kasihan Emily” dibelakang derapan keretanya ketika dia lewat di depan kami pada minggu siang itu dengan keretanya, Miss Emily dengan kepalanya yang mendongak tinggi dan Hormer Barron dengan topinya yang dilekuk dan rokoh di mulutnya,  mengendalikan kereta itu dengan cambuk di tanganya yang memakai sarung tangan kuning.
    Kemudia para ibu-ibu mulai berbisik-bisik Emily merupakan aib bagi kota itu dan memberikan contoh yang tidak bagus pada generasi muda. Para pria di kota itu tidak mau ikut campur urusan itu, tetapi para ibu-ibu pada akhirnya memaksa pendeta di sana untu memperingatkanya. Dia tak pernah menceritakan kepada mereka isi pembicaraanya dengan Emily, dan tidak mau mendatanginya kembali. Minggu berikutnya Emily dan Hormer muncul kembali berduaan mengendarai kereta di jalanan, dan pada keesokan harinya istri pendeta di sana mengirim surat kepada kerabat Emily di Alabama.
Kerabat Emily datang dari Alabama dan menginap di rumahnya; kamipun menyaksikan bagaimana perkembangannya. Pada mulanya, tidak ada yang berubah. Kemudian kamu mulai yakin mereka akan menikah. Kami melihat Miss Emily pergi ke tokoh perhiasan dan memesan kaca rias pria berwarna perak berlukiskan huruf H.B pada tiap-tiap sisiny. Dua hari kemudian kami melihat dia membeli setelan lengkap pria termasuk baju tidur, dan kami berkata, “Mereka menikah.” Kami sangat senang karena dua sepupu Emily yang datang ke sana lebih Grierson daripada Emily.
    Jadi kami tidak heran ketika Homer Baron—pekerjaan jalan telah selesai—pergi dari kota itu. Kami sedikit kecewa mereka tidak mengumumkan pernikahan mereka kepada penduduk kota, tapi kami yakin dia mempersiapkan kedatangan Emily, atau memberinya kesempatan untuk menyingkirkan sepupunya dari rumah itu. (Pada waktu itu ada komplotan rahasia, kami diam-diam membantu Miss Emily untuk menyingkirkan sepupunya). Tepatnya setelah seminggu berlalu, kerabat Emily pergi dari rumahnya.  Sebagaimana yang kami duga selama ini, dalam tiga hari Homer Brown kembali ke kota itu. Seorang tetangga melihat pelayan Negro itu menyambutknya di pintu dapur pada suatu senja.
    Dan itu terakhir kalinya, kami melihat Homer Brown meskipun kami masih melihat Miss Emily beberapa kali. Pria Negro tetap keluar masuk dari rumah itu dengan menjinjing keranjang belanja, tapi pintu rumah itu tetap tertutup. Beberapa kali, kami melihat Emily di jendelanya, seperti yang dilihat oleh para pria yang dulu menaburkan lemon ke rumah Emily untuk menghilangkan bau, tapi hampir selama enam bulan dia tak pernah terlihat berada di luar rumahnya. Kemudian kami tahu ini seperti apa yang kami duga; seolah kelakuan ayahnya yang telah menyulitkan kehidupannya sebagai seorang wanita sangat membinasakan dan sulit untuk dilupakan.
    Ketika kami melihat Miss Emily kembali, dia berubah menjadi gemuk dan rambutnya berubah abu-abu. Selama tahun-tahun berikutnya, rambutnya semakin abu-abu dan pada akhirnya seluruh rambutnya berwarna abu-abu pekat. Hingga kematiannya pada usianya ke tujuh puluh empat, rambutnya tetap berwarna seperti itu.
    Sejak waktu itu, pintu rumahnya selalu tertutup, kecuali beberapa waktu selama enam atau tujuh tahun, ketika dia berusia empat puluh, saat itu dia memberikan les melukis lukisan cina. Dia mendirikan sebuah studio di salah satu ruang bawah rumahnya, di mana puteri dan cucu penerus Kolonel Sartoris berangkat ke rumah itu secara teratur dengan semangat yang sama ketika mereka berangkat ke sekolah minggu dengan uang belanja 25 sen. Sementara itu tagihan pajaknya tetap dikirim.
    Kemudian generasi muda di kota itu menjadi tulang punggung, anak-anak yang dulunya belajar melukis tumbuh dewasa dan tidak menyuruh anak-anak mereka belajar melukis ke rumah Emily. Pintu rumah Emily pada akhirnya tertutup selamanya semenjak itu. Ketika penduduk kota mendapat layanan post gratis, Miss Emily satu-satunya penduduk kota yang menolak memasang nomor pos serta kotak surat di rumahnya. Dia tidak mau mendengar petugas pos tersebut.
    Hari berlalu, bulan dan tahun berganti, kami melihat Negro itu semakin tua dan bungkuk, keluar masuk rumah itu dengan menjinjing keranjang belanja. Setiap bulan Desember kami tetap mengirimnya surat tagihan pajak, yang seminggu nantinya akan dikirim kembali ke kantor pos tanpa komentar. Beberapa kali, kami melihatnya di salah satu jendela lantai bawah—dia tempaknya telah menutup lantai atas rumah tersebut—seperti patung torso. Kami tak pernah tahu pasti apakah dia melihat kepada kami atau tidak. Begitulah dia selama tahun-tahun yang lama berlalu—terhormat, tak terelakkan, tak tersentuh, tenang dan suka menentang.
    Kemudian dia meninggal dunia. Menghembuskan nafas terakhirnya di rumah berdebu dan gelap hanya dengan seorang Negro yang gemetar menungguinya. Kami bahkan tidak tahu kalau dia sakit; kita telah lama menyerah mengorek informasi tentangnya dari Negro itu. Dia tak pernah berbicara pada siapapun, mungkin bahkan pada Emily sekalipun, karena suaranya terdengar kelu dan serak seolah tak pernah digunakan.
    Dia meninggal di salah satu ruangan lantai bawah, di atas ranjang berkelambu  terbuat dari kayu kenari, rambut abu-abunya yang apak oleh usia dan jarang terkena sinar matahari menopang kepalanya di atas bantal berwarna kuning

V


    Negro itu menyambut ibu-ibu di pintu depan dan membiarkan mereka masuk, dengan kediaman dan suara berbisik-bisik serta tatapan mereka yang penuh rasa ingin tahu isi rumah itu, kemudia Negro itu menghilang. Dia berjalan lewat ruang depan dan pergi ke belakang dan tak terlihat lagi.
    Dua sepupu Emily segera datang. Mereka memakamkan jenazah Emily pada hari kedua, dengan dihadiri oleh seluruh penduduk kota menyaksikan Miss Emily bersemayam di bawah tumpukan bunga, dengan lukisan wajah ayahnya merenung di antara usungan tandu dan bisikan ibu-ibu; serta pria-pria berusia lanjut—beberapa dari mereka mengenakan seragam persatuan—di serambi depan dan halaman rumah, membicarakan Emily seolah-olah mereka kenal denganya, percaya bahwa mereka pernah berdansa dengannya atau mungkin berkencan, membingungkan waktu dengan hitungan matematisnya, sebagaimana yang biasa terjadi pada orang-orang tua, bagi mereka yang masa lalu belumlah menjadi jalan yang telah hilang tetapi, bukannya seperti padang rumput luas dimana tak pernah terterpa musim dingin, kini terpisahkan dari mereka oleh lembah sempit selama puluhan tahun berakhir.
    Kamu mengetahui ada satu ruangan di lantai atas yang seorangpun pernah melihatnya selama empat puluh tahun, dan harus dibuka secara paksa. Mereka menunggu hingga Miss Emily dimakamkan secara layak sebelum membuka ruangan itu.
    Suara gaduh pintu yang dibuka secara paksa mengisi ruangan ini ditambah dengan debu yang berterbangan. Tebal, kain penutup peti mati tampak terbentang menutupi ruangan ini didandani dan dihiasi seperti untuk pengantin: di atas tirai kelambu berwarna merah mawar yang memudar, di atasnya terdapat cahaya temaram, di  atas meja rias, di atas susunan kristal lembut dan lemari pakaian pria berpoles warna perak yang mulai mengelupas. Di atasny terbentang sebuah kemeja dan dasi, yang tampak seperti baru ditanggalkan, ketika diangkat mereka meninggalkan bentuk bulan sabit pada permukaan yang berdebu. Diatas kursi digantung sebuah setelan, yang dilipat rapi; dibawahnya ada dua sepatu dan kaus kaki usang.

http://1.bp.blogspot.com/-GNSBCpbXnI0/U4vfCfS7nZI/AAAAAAAAAh8/KR9Z9kVUZ3g/s1600/evacorpse.jpg


    Pria itu berbaring di atas ranjang.
    Lama kami mematung dan menatap terkejut seulas ringisan pada tubuh yang tak berdaging itu. Tampaknya tubuh itu dulu berbaring sedang memeluk sesuatu, tapi kini tertidur panjang yang yang memudarkan ringisan cinta yang telah menyakitinya. Apa yang tersisa darinya, membusuk dibawah apa yang kini tampak seperti baju tidur, menjadi tak memungkinkan dia untuk melarikan diri dari kasur tempat dia terbaring; di atas tubuhnya dan bantal di sampingnya diselimuti oleh debu yang sangat tebal.
    Kemudian kami melihat bekasan lekukan kepala pada bantal di sampingnya. Salah seorang dari kami memungut sesuatu dari bantal itu. Bergelombang ke depan, kusam dan kering berdebu serta berbau busuk menyengat hidung, kami melihat sehelai rambut panjang berwarna abu-abu pekat.

dunia sastra

Language in India www.languageinindia.com ISSN 1930-2940 15:4 April 2015

Language in India www.languageinindia.com ISSN 1930-2940 15:4 April 2015 Dr. Roshni Duhan, Ph.D. (Law), M.A. (English) The Relationship betw...

https://utm1793.blogspot.co.id/