Selasa, 21 Oktober 2014

" Sombong karena merasa Tawadhu' "
Dalam kitab “Al-Hikam”, Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Atha'illah as-Sakandary menjelaskan :
مَنْ أَثْبَتَ لِنَفْسِـهِ تَوَاضُعًا فَهُوَ الْمُتَكَـبِّرُ­ حَقًّا، إِذْ لَيْسَ التَّوَاضُعُ إِلاَّ عَنْ رِفْعَةٍ فَمَتَى أَثْبَتَ لِنَفْسِكَ رِفْعَةً فَأَنْتَ الْمُتَكَـبِّرُ­ حَقًّا
Siapa merasa dirinya tawadhu‘, maka dia benar-benar telah takabbur (sombong). Sebab tiadalah ia merasa tawadhu‘ kalau bukan karena sifat tinggi darinya.
Oleh karena itu, kapan saja kita merasa diri kita tinggi, maka sungguh kita telah takabbur.
Kadang karena ingin tawadhu‘, kita berlaku berlebihan sehingga menjalani hidup terlalu bersahaja padahal kita mampu.
Misalnya : tidak mau ikut serta menyumbangkan pemikiran dan pendapat yang kita miliki kepada orang lain, selalu menolak kepercayaan, tanggung jawab serta amanah yang diberikan kepada kita, padahal kita memiliki kemampuan untuk melaksanakan itu semua. Setan akan menggoda dan membisiki kita bahwa sikap itulah bentuk keunggulan kita yang tidak dimiliki orang lain. Kita adalah orang mulia karena mampu bersikap tawadhu‘ seperti itu.
Mâsyâ Allah. Setan memang tak pernah lelah untuk menggelincirkan­ kita. Walaupun kita sudah rendah hati, justru sifat itu sendiri yang dijadikan senjata oleh setan untuk membuat diri kita sombong. Merasa diri tawadhu‘ termasuk sifat angkuh (kibr). Apalagi jika sifat ini dipamerkan kepada orang lain, maka jadilah perbuatan ini riya’.
Sebenarnya tawadhu‘ itu hanyalah sifat terpuji yang tersimpan dalam hazanah kalbu seorang hamba Allah. Ia tidak menunjukkan sifat-sifatnya itu. Ia hanya meneladani akhlaq Rasulullah shallallahu'Ala­ihi Wasallam. Ia sendiri tidak merasa memiliki sifat tersebut, karena yang ia gunakan dan tiru adalah sifat Rasulullah.
“Hakikat tawadhu‘ adalah tawadhu‘-nya seseorang karena melihat keagungan Allah dan sifat-sifat-Nya­. Tidak ada yang dapat mengeluarkan engkau dari sifat angkuh, kecuali engkau memperhatikan sifat-sifat Allah,”
Kekuasaan Allah adalah sifat yang ada pada-Nya. Allah-lah Yang Maha Kuasa (Al-Qâdir). Selama kita tidak memperhatikan sifat-sifat kemuliaan yang ada pada-Nya, selama itu pula kita merasa lebih dari manusia lainnya, dan dengan sifat itu kita telah takabbur.
Abu Bakar Dalf asy-Syibli berkata, “Siapa yang merasa diri berharga, maka ia tidak bertawadhu‘ (tidak ada bagian dalam tawadhu‘).”
Abu Sulaiman ad-Darany berpesan, “Seorang hamba tidak dapat bertawadhu‘ kepada Allah hingga mengetahui kedudukan dirinya (maksudnya dia tahu kedudukan dirinya di hadapan Allah).”
Bahkan, seorang ulama' ahli hikmah menasihatkan, “Selama seseorang merasa ada yang lebih jahat dari dirinya, maka ia sombong.”
Tawadhu‘ adalah sifat dan watak yang harus dimiliki oleh setiap muslim karena termasuk bagian dari akhlak terpuji (akhlaqul mahmudah).
Supaya senantiasa dalam ketundukan pada-Nya, marilah kita bersama-sama memohon kepada Allah :
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِاسْمِكَ الطُّهْرَ الطَّاهِرِ وَبِعَظَمَتِكَ وَكِبْرِيَائِكَ­ الَّذِى إِذَا طُلِبَتْ بِهَا الْحَسَنَاتِ نِيْلَتْ وَإِذَا دُرِئَتْ بِهَا السَّـيِّئاَتِ حِيْلَتْ. اللَّهُمَّ اصْرِفْ عَناَّ السُّوْءَ وَأَلْقِ عَلَيْنَا مِنْ زِيْنَتِكَ وَنُعُوْتِ رُبُوْبِيَّـتِك­َ مَا تَقْهَرُ بِهَا الْقُلُوْبَ وَتَذِلُّ بِهَا النُّفُوْسَ وَتَقِرُّ بِهَا اْلأَبْصَارَ وَتَلِذُّ بِهَا اْلأَفْكَارَ وَتَخْضَعُ بِهَا كُلَّ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ. يَا اللهُ يَا مُتَكَبِّرُ يَا قَهَّارُ
Ya Allah, sesungguhnya kami mohon kepada-Mu, dengan nama-Mu yang suci, serta keagungan dan kebesaran-Mu yang bila dimohonkan kebijakan dengannya diperoleh kebijakan itu. Bila ditolak keburukan dengan menyebutnya terjauhkan dari keburukan itu. Ya Allah, hindarkanlah kami dari segala keburukan, campakkanlah ke dalam jiwa kami keindahan-Mu serta sifat-sifat-Mu yang terpuji, agar tunduk dengannya semua kalbu, serta luluh semua jiwa, sejuk karenanya semua mata, dan tenang semua pikiran, lagi tunduk semua yang angkuh dan pembangkang. Ya Allah, Yang Memiliki Kebesaran dan Maha Perkasa. Aamiin.
Insya Allah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar