Sabtu, 11 Oktober 2014

Menemukan Jati Diri
Hubungan antara manusia dengan Tuhan itu sangat pribadi dan rahasia.
Seorang sufi besar tidak harus memakai sorban agar terlihat seperti seorang sufi, Dia bisa saja memakai caping atau dekil seperti pengemis. Seorang shaleh tidak harus duduk diam mendengarkan ceramah pemuka agama agar dianggap shaleh dia bisa belajar dari kesunyian atau tangisan seorang bayi. Dia bisa belajar dari manapun.
...
Kita tidak harus membawa senjata atau pentungan agar dianggap sebagai pejuang.
Kita tidak harus unjuk kekuatan dengan mengumpulkan orang banyak, agar dianggap ummat Muhammad yg ta'at.
Tuhan bisa menembus mata hati seseorang, walau semua orang menganggap dia sesat atau gila. Tuhan Maha Tahu.
Seorang Nasionalis tidak harus berbicara tentang sejarah negaranya agar dapat diterima keberadaannya dan karena ketakutannya dianggap tidak Nasionalis. Dengan cukup percaya pada dirinya, yang lain akan mengikuti..
Diri yang kuat membentuk
pribadi yang kuat. Merasa kuat pada diri secara tidak langsung mempengaruhi orang lain.
Orang lain pada umumnya lebih tertarik pada karakter yang kuat.
Jadilah magnet, bukan besi yang selalu mengikuti. Ikuti jalan kita sendiri.
Inti dari hidup menurut sebagian ulama' adalah siapa diri kita, apa tujuan kita hidup dan apa kita sudah benar-benar memahami diri kita.
Tidak ada takaran untuk itu, karena kita terus mencari, bila masih merasa resah mungkin itu berarti kita belum menemukan inti hidup.
Pencarian jati diri bisa sangat melelahkan. Ada seseorang yang sudah menemukannya saat berumur 20 tahun..45 tahun, atau sampai dia meninggal masih belum menemukan apa-apa.
Apabila dia sudah menemukannya itu bisa dalam bentuk apapun, hanya orang tersebut yang tahu.
Pikiran yang dangkal, adalah orang yang selalu melihat kulit luar orang lain tanpa mau merenungi kelemahan diri. Atau jika kita sudah menganggap diri kita cukup baik dan memberi batasan untuk tidak berteman dengan seseorang yang memiliki kelainan gender atau seseorang berpenyakit AIDS maupun kusta.
Hidup bukan untuk menuruti orang agar kita merasa diakui tapi untuk dinikmati. Sesungguhnya kita sendirian di dunia ini.
Jiwa ini bebas.
Kebahagiaan diri tidak
ditentukan oleh banyaknya pujian orang, merasa lebih baik dari yang lain. Menang dan kalah, pencitraan, tebar pesona, atau ketakutan akan cacian orang lain..
Tapi lebih karena kita bisa memahami diri sendiri.
Orang yang bijak adalah orang yang tidak pernah tahu apa dirinya putih atau hitam..
Dia hanya berkata abu-abu,
Sedikit banyak mungkin
campuran dari keduanya.
Itulah perumpamaan manusiawi yang tepat.
Semoga bermanfaat untuk renungan kita semua.
Blitar, 09/02/2013 by PPMH MANTENAN'S FB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar